| |
Sebelum menelaah berbagai penderitaan dan bencana yang ditimpakan
Darwinisme kepada dunia, marilah kita mempelajari sejarah Darwinisme secara
sekilas. Banyak orang percaya bahwa teori evolusi yang pertama kali dicetuskan
oleh Charles Darwin adalah teori yang didasarkan atas bukti, pengkajian
dan percobaan ilmiah yang dapat dipercaya. Namun, pencetus awal teori
evolusi ternyata bukanlah Darwin, dan, oleh karenanya, asal mula teori
ini bukanlah didasarkan atas bukti ilmiah.
Pada suatu masa di Mesopotamia, saat agama penyembah berhala
diyakini masyarakat luas, terdapat banyak takhayul dan mitos tentang asal-usul
kehidupan dan alam semesta. Salah satunya adalah kepercayaan tentang "evolusi".
Menurut legenda Enuma-Elish yang berasal dari zaman Sumeria, suatu ketika
pernah terjadi banjir besar di suatu tempat, dan dari banjir ini tiba-tiba
muncul tuhan-tuhan yang disebut Lahmu dan Lahamu. Menurut takhayyul yang
ada waktu itu, para tuhan ini pertama-tama menciptakan diri mereka sendiri.
Setelah itu mereka melingkupi keseluruhan alam semesta dan kemudian membentuk
seluruh materi lain dan makhluk hidup. Dengan kata lain, menurut mitos
bangsa Sumeria, kehidupan terbentuk secara tiba-tiba dari benda tak hidup,
yakni dari kekacauan dalam air, yang kemudian berevolusi dan berkembang.
Kita dapat memahami betapa kepercayaan ini berkaitan erat
dengan pernyataan teori evolusi: "makhluk hidup berkembang dan berevolusi
dari benda tak hidup." Dari sini kita dapat memahami bahwa gagasan evolusi
bukanlah diawali oleh Darwin, tetapi berasal dari bangsa Sumeria penyembah
berhala.
| Gambar yang memperlihatkan dewa air bangsa Sumeria. Sebagaimana masyarakat Sumeria, para Darwinis juga meyakini bahwa kehidupan muncul secara kebetulan dari air. Dengan kata lain, mereka menganggap air sebagai tuhan yang menciptakan kehidupan. |
Di kemudian hari, mitos evolusi tumbuh subur di peradaban
penyembah berhala lainnya, yakni Yunani Kuno. Filsuf materialis Yunani
kuno menganggap materi sebagai keberadaan satu-satunya. Mereka menggunakan
mitos evolusi, yang merupakan warisan bangsa Sumeria, untuk menjelaskan
bagaimana makhluk hidup muncul menjadi ada. Demikianlah, filsafat materialis
dan mitos evolusi muncul dan berjalan beriringan di Yunani Kuno. Dari
sini, mitos tersebut terbawa hingga ke peradaban Romawi.
Kedua pemikiran tersebut, yang masing-masing berasal dari
kebudayaan penyembahan berhala ini, muncul lagi di dunia modern pada abad
ke-18. Sejumlah pemikir Eropa yang mempelajari karya-karya bangsa Yunani
kuno mulai tertarik dengan materialisme. Para pemikir ini memiliki kesamaan:
mereka adalah para penentang agama.
Demikianlah, dan yang pertama kali mengulas teori evolusi
secara lebih rinci adalah biologiwan Prancis, Jean Baptiste Lamarck. Dalam
teorinya, yang di kemudian hari diketahui keliru, Lamarck mengemukakan
bahwa semua mahluk hidup berevolusi dari satu ke yang lain melalui perubahan-perubahan
kecil selama hidupnya. Orang yang mengulang pernyataan Lamark dengan cara
yang sedikit berbeda adalah Charles Darwin.
Darwin mengemukakan teori tersebut dalam bukunya The
Origin of Species, yang terbit di Inggris pada tahun 1859. Dalam
buku ini, mitos evolusi, yang diwariskan oleh peradaban Sumeria kuno,
dipaparkan lebih rinci. Dia berpendapat bahwa semua spesies makhluk hidup
berasal dari satu nenek moyang, yang muncul di air secara kebetulan, dan
mereka tumbuh berbeda satu dari yang lain melalui perubahan-perubahan
kecil yang terjadi secara kebetulan.
Pernyataan Darwin tidak banyak diterima oleh para tokoh ilmu
pengetahuan di masanya. Para ahli fosil, khususnya, menyadari pernyataan
Darwin sebagai hasil khayalan belaka. Meskipun demikian, seiring berjalannya
waktu, teori Darwin mulai mendapatkan banyak dukungan dari berbagai kalangan.
Hal ini disebabkan Darwin dan teorinya telah memberikan landasan berpijak
ilmiah - yang dahulunya belum diketemukan- bagi kekuatan yang berkuasa
pada abad ke-19.
| Sebagaimana masyarakat penyembah berhala, para pengikut Darwin percaya bahwa kehidupan muncul secara kebetulan di dalam air akibat pengaruh alam. Menurut pernyataan yang tidak masuk akal ini, atom-atom yang tidak memiliki kecerdasan yang terdapat dalam "sup purba", sebagaimana tampak pada gambar, bertemu untuk kemudian saling bergabung dan membentuk makhluk hidup. |
Alasan Ideologis Penerimaan Darwinisme
Ketika Darwin menerbitkan buku The Origin of Species
dan memunculkan teori evolusinya, ilmu pengetahuan kala itu masih sangat
terbelakang. Misalnya, sel, yang kini diketahui memiliki sistem teramat
rumit, hanya tampak seperti bintik noda melalui mikroskop sederhana waktu
itu. Karenanya, Darwin merasa tidak ada yang salah ketika menyatakan bahwa
kehidupan muncul secara kebetulan dari materi tak hidup.
| Dibandingkan yang ada sekarang, mikroskop abad ke-19 sangatlah kuno dan, karena-nya, sebagaimana terlihat pada gambar, hanya dapat menampakkan sel sebagai bintik-bintik noda. |
Demikian pula, catatan fosil yang tidak lengkap waktu itu
memberi celah bagi penyataan bahwa mahluk hidup telah terbentuk dari satu
spesies ke spesies yang lain melalui perubahan sedikit demi sedikit. Sebaliknya,
kini telah jelas bahwa catatan fosil, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya,
tidak memberikan secuil bukti apapun yang mendukung pernyataan Darwin
bahwa suatu makhluk hidup muncul dari perkembangan makhluk hidup lain
yang telah ada sebelumnya. Hingga baru-baru ini, para evolusionis terbiasa
mengelak dari kebuntuan yang menghadang mereka tersebut dengan berdalih,
"Ini akan ditemukan suatu saat di masa mendatang." Tetapi, mereka sekarang
tidak lagi mendapatkan tempat bersembunyi di balik penjelasan ini (Untuk
lebih lengkapnya, silahkan membaca Bab "Kekeliruan Teori Evolusi")
Apapun yang terjadi, keyakinan para Darwinis terhadap teori
evolusi tidak berubah sedikitpun. Para pendukung Darwin telah datang dan
hadir hingga zaman kita dan, layaknya harta warisan, mereka melimpahkan
kesetiaan kepada Darwin ke generasi selanjutnya secara turun-temurun selama
150 tahun terakhir.
Jika demikian, apakah yang menjadikan Darwinisme diminati
sejumlah kalangan dan disebarlu-askan melalui propaganda besar-besaran,
padahal fakta tentang ketidakabsahan ilmiahnya kini telah nampak jelas?
Yang paling menonjol dari teori Darwin adalah pengingkarannya
terhadap keberadaan Pencipta. Menurut teori evolusi, kehidupan membentuk
dirinya sendiri tanpa sengaja dari bahan-bahan pembentuknya yang telah
ada di alam. Pernyataan Darwin ini memberikan pembenaran ilmiah palsu
bagi semua filsafat kaum anti Tuhan, dimulai dari filsafat kaum materialis.
Sebab, hingga abad ke-19, sebagian besar para ilmuwan melihat ilmu pengetahuan
sebagai sarana mempelajari dan menemukan ciptaan Allah. Karena keyakinan
ini tersebar luas, filsafat atheis dan materialis tidak menemukan lahan
subur untuk tumbuh berkembang. Namun, pengingkarannya terhadap keberadaan
Pencipta dan dukungan 'ilmiah' yang diberikannya kepada keyakinan atheis
dan materialis menjadikan teori Evolusi sebagai kesempatan emas bagi mereka.
Karena alasan ini, kedua filsafat tersebut berpihak kepada Darwinisme
dan menyelaraskan teori ini dengan ideologi mereka sendiri.
Selain penyangkalan Darwinisme terhadap keberadaan Tuhan,
terdapat pernyataan lainnya mendukung berbagai ideologi materialistis
abad ke-19: "Perkembangan makhluk hidup dipengaruhi oleh perjuangan untuk
mempertahankan hidup di alam. Perseteruan ini dimenangkan oleh yang terkuat.
Yang lemah akan kalah dan punah."
Kaitan erat Darwinisme dengan ideologi-ideologi yang telah
menimpakan penderitaan dan bencana terhadap dunia diungkap dengan jelas
dalam bagian ini.
Darwinisme Sosial : Penerapan Hukum Rimba Dalam
Kehidupan Manusia
Kehidupan Manusia
| Charles Darwin |
Salah satu pernyataan terpenting teori evolusi adalah "perjuangan
untuk mempertahankan hidup" sebagai pendorong utama terjadinya perkembangan
makhluk hidup di alam. Menurut Darwin, di alam terjadi perkelahian tanpa
mengenal belas kasih demi mempertahankan hidup, ini adalah sebuah pertikaian
abadi. Yang kuat selalu mengalahkan yang lemah, dan ini mendorong terjadinya
perkembangan. Judul tambahan buku The Origin of Species merangkum
pandangan ini. "The Origin of Species by Means of Natural Selection
or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life" ("Asal-Usul
Spesies melalui Seleksi Alam atau Pelestarian Ras-Ras Pilihan dalam Perjuangan
untuk Mempertahankan Hidup.")
Yang mengilhami Darwin tentang hal ini adalah buku karya
ekonom Inggris, Thomas Malthus: An Essay on The Principle of Population.
Buku ini memperkirakan masa depan yang cukup suram bagi umat manusia.
Menurut perhitungan Malthus, jika dibiarkan, populasi manusia akan meningkat
dengan sangat cepat. Jumlahnya akan berlipat dua setiap 25 tahun. Namun,
persediaan makanan tidak akan bertambah pada laju yang sama. Dalam keadaan
ini, manusia menghadapi bahaya kelaparan yang tiada henti. Yang mampu
menekan jumlah populasi ini adalah bencana, seperti perang, kelaparan,
dan penyakit. Singkatnya, agar sebagian orang tetap bertahan hidup, maka
sebagian yang lain perlu mati. Kelangsungan hidup berarti "perang tanpa
henti".
Menurut Darwin buku Malthuslah yang mejadikannya berpikir
tentang perjuangan demi mempertahankan hidup:
Dalam bulan Oktober 1838, yakni 15 bulan
setelah saya memulai pengkajian sistematis saya, saya kebetulan membaca
buku Malthus tentang kependudukan sekedar untuk hiburan, dan setelah sebelumnya
memahami bahwa perjuangan untuk mempertahankan hidup yang terjadi di mana-mana,
berdasarkan pengamatan berulang-ulang terhadap kebiasaan pada binatang
dan tumbuhan, saya seketika tersadarkan bahwa keadaan ini mendorong variasi
menguntungkan untuk cenderung lestari dan yang tidak menguntungkan akan
musnah. Hasilnya adalah pembentukan spesies baru. Di sinilah saya pada
akhirnya menemukan sebuah teori yang dapat saya pakai.2
Pada abad ke-19, gagasan Malthus telah diterima oleh masyarakat
luas. Sejumlah kalangan intelektual Eropa kelas atas secara khusus mendukung
gagasan Malthus ini. Perhatian besar yang diberikan Eropa abad ke-19 kepada
pemikiran Malthus tentang populasi tercantum dalam artikel The Scientific
Background of the Nazi "Race Purification" Programme (Latar Belakang Ilmiah
Program "Pemurnian Ras" oleh Nazi ) :
Pada paruh pertama abad ke-19, di seluruh
Eropa, para anggota kalangan yang berkuasa berkumpul membicarakan "masalah
kependudukan" yang baru ditemukan, dan untuk merumuskan cara menerapkan
anjuran Malthus untuk meningkatkan laju kematian orang-orang miskin: "Sebagai
ganti ajakan hidup bersih kepada orang-orang miskin, kita harus menganjurkan
kebiasaan hidup yang sebaliknya. Di kota-kota kita, kita hendaknya menjadikan
jalanan semakin sempit, menjejali lebih banyak orang yang tinggal dalam
rumah, dan mendorong munculnya kembali wabah penyakit. Di negeri ini kita
harus membangun desa-desa di dekat tempat genangan air, dan secara khusus
menganjurkan pemukiman di semua tempat basah rentan banjir dan tidak sehat,"
dan seterusnya, dan seterusnya.3
| Thomas Malthus adalah tokoh yang mempengaruhi pemikiran Darwin. Ia mengemukakan bahwa peperangan dan kekurangan pangan menekan pesatnya pertumbuhan penduduk dunia. |
Akibat kebijakan biadab ini, yang kuat akan mengalahkan yang
lemah dalam perseteruan untuk mempertahankan hidup, dan dengan demikian
laju pertumbuhan penduduk yang cepat akan dapat ditekan. Di Inggris pada
abad ke-19, program "penjejalan orang-orang miskin" ini telah benar-benar
diterapkan. Sebuah sistem industri didirikan sebagai tempat di mana anak-anak
berusia delapan atau sembilan tahun bekerja selama 16 jam sehari di pertambangan
batubara, di mana ribuan dari mereka meninggal akibat keadaan yang buruk
tersebut. Gagasan tentang "perjuangan untuk mempertahankan hidup" yang
dianggap penting dalam teori Malthus, telah mengakibatkan jutaan orang
miskin di Inggris menjalani hidup penuh penderitaan.
Darwin, yang terpengaruh pemikiran Malthus, menerapkan cara
pandang ini ke seluruh alam kehidupan, dan mengatakan bahwa peperangan
ini, yang benar-benar ada, akan dimenangkan oleh yang terkuat dan yang
paling layak hidup. Pernyataan Darwin tersebut berlaku pada semua tanaman,
binatang, danmanusia. Ia juga menekankan bahwa perseteruan untuk mempertahankan
hidup ini adalah hukum alam yang senantiasa ada dan tak pernah berubah.
Dengan menolak adanya penciptaan, ia mengajak orang-orang menanggalkan
keyakinan agama mereka dan dengan demikian berarti pula seruan untuk meninggalkan
segala prinsip etika yang dapat menjadi penghalang bagi kebiadaban dalam
"perjuangan untuk mempertahankan hidup."
Karena alasan inilah teori Darwin mendapatkan dukungan dari
kalangan yang berkuasa, bahkan sejak teori tersebut baru saja didengar,
awalnya di Inggris dan selanjutnya di negeri Barat secara keseluruhan.
Kaum imperialis, kapitalis, dan materialis lainnya yang menyambut hangat
teori ini, yang memberikan pembenaran ilmiah bagi sistem politik dan sosial
yang mereka dirikan, tidak kehilangan waktu untuk segera menerimanya.
Dalam waktu singkat, teori evolusi telah dijadikan satu-satunya patokan
utama dalam berbagai bidang yang menjadi kepentingan masyarakat, dari
sosiologi hingga sejarah, dari psikologi hingga politik. Di setiap pokok
bahasan, gagasan yang mendasari adalah semboyan "perjuangan untuk bertahan
hidup" dan "kelangsungan hidup bagi yang terkuat"; dan partai politik,
bangsa, pemerintahan, perusahaan dagang, dan perorangan mulai menjalani
kegiatan atau kehidupannya dengan berpedomankan semboyan ini. Karena ideologi-ideologi
yang berpengaruh di masyarakat telah menyelaraskan diri dengan Darwinisme,
propaganda Darwinisme mulai dilakukan di segala bidang, dari pendidikan
hingga seni, dari politik hingga sejarah. Terdapat upaya untuk menghubung-hubungkan
setiap bidang yang ada dengan Darwinisme, dan untuk memberikan penjelasan
pada tiap bidang tersebut dari sudut pandang Darwinisme. Akibatnya, meskipun
orang-orang tidak memahami Darwinisme, berbagai pola masyarakat yang menjalani
kehidupan sebagaimana perkiraan Darwinisme mulai terbentuk.
Darwin sendiri menganjurkan agar pandangannya yang didasarkan
pada evolusi diterapkan pada pemahaman tentang etika dan ilmu-ilmu sosial.
Darwin mengatakan berikut ini kepada H.Thiel dalam sebuah surat pada tahun
1869:
Anda akan segera meyakini betapa tertariknya
saya ketika mendapati bahwa dalam masalah-masalah moral dan sosial anda
menerapkan pandangan-pandangan yang serupa dengan yang telah saya gunakan
dalam masalah perubahan spesies. Awalnya tidak terpikirkan dalam diri
saya bahwa pandangan-pandangan saya dapat diperlebar ke bidang-bidang
yang demikian luas, berbeda, dan paling penting.4
Dengan diterimanya pula gagasan "pertikaian di alam" dalam
kehidupan manusia, peperangan dengan mengatas-namakan rasisme, Fasisme,
Komunisme, dan imperialisme, dan tindakan golongan kuat untuk menindas
orang-orang yang mereka anggap lebih lemah, kini terbungkus dengan topeng
ilmiah. Sejak saat itu, mustahil menyalahkan atau menghalangi mereka yang
melakukan pembantaian biadab, yang memperlakukan manusia layaknya binatang,
yang mendorong pertikaian di antara sesama, yang merendahkan orang lain
karena ras mereka, yang mematikan usaha kecil dengan dalih kompetisi,
dan yang enggan membantu orang miskin. Sebab mereka melakukan ini semua
sesuai dengan hukum alam yang "ilmiah".
Penjelasan ilmiah baru ini dikenal dengan nama "Darwinisme
Sosial".
| |
Salah seorang ilmuwan evolusionis terkemuka
zaman kita, paleontolog Amerika, Stephen Jay Gould menerima kebenaran
ini dengan menuliskan bahwa, menyusul penerbitan buku The Origin of
Species pada tahun 1859, "alasan yang kemudian dipakai untuk membenarkan
perbudakan, penjajahan, pembedaan ras, pertikaian antar kelas masyarakat,
dan peran jenis kelamin dikemukakan dengan dukungan utama dari ilmu pengetahuan."5
| PENINDASAN DI SELURUH DUNIA Munculnya Darwinisme menjadikan kebohongan bahwa "pertikaian dan peperangan merupakan fitrah dalam diri manusia" diterima secara ilmiah. Akibatnya sungguh mengenaskan: di banyak tempat di dunia, peperangan, pembunuhan, dan kebiadaban dibungkus dengan menggunakan kedok 'ilmiah'. Demikianlah abad ke-20 menjadi abad yang penuh penderitaan dan kebiadaban. |
Ada satu hal sangat penting untuk diketahui disini. Di setiap
kurun sejarah manusia, terjadi peperangan, kekejaman, kebiadaban, rasime,
dan pertikaian. Tetapi, di setiap masa selalu ada agama wahyu yang mengajarkan
manusia bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah, dan mengajak mereka
kepada perdamaian, keadilan, dan ketentraman. Oleh karena manusia mengetahui
ajaran agama wahyu ini, mereka setidaknya memahami kekeliruan mereka ketika
terjerumus kepada tindak kekerasan.
Tapi sejak abad ke-19, Darwinisme menyatakan bahwa perseteruan
dan ketidakadilan demi memperebutkan keuntungan, memiliki unsur pembenaran
ilmiah bagi mereka, dan mereka juga mengatakan bahwa semua ini merupakan
bagian dari sifat fitrah manusia, bahwa dalam dirinya manusia memiliki
kecenderungan bertindak biadab dan agresif yang merupakan peninggalan
dari oleh nenek moyangnya, dan seperti halnya dengan binatang yang terkuat
dan paling agresif akan bertahan hidup, hukum yang sama ini berlaku pada
manusia. Di bawah pengaruh pemikiran ini, peperangan, penderitaan, dan
pembantaian mulai terjadi di banyak tempat di seluruh dunia. Darwinisme
mendukung dan mendorong semua pergerakan yang mendatang-kan penderitaan,
pertumpahan darah, dan penindasan kepada dunia. Paham ini memperlihatkan
berbagai tindakan tersebut sebagai hal yang masuk akal dan dapat dibenarkan,
dan medukung semua penerapannya. Karena adanya dukungan ilmiah ini, ideologi
berbahaya lainnya bermunculan dan tumbuh semakin kuat, dan hasil yang
didapat adalah "abad penderitaan" pada abad ke-20.
Dalam bukunya "Darwin, Marx, Wagner" profesor sejarah
Jacques Barzun menyelidiki penyebab ilmiah, sosiologis, dan budaya dari
kehancuran moral dahsyat yang menimpa dunia modern. Pernyataan dari buku
Bazrun ini sungguh menarik jika dilihat dari sudut pandang pengaruh Darwinisme
terhadap dunia:
... di setiap negeri Eropa antara tahun
1870 dan 1941 terdapat golongan pro-peperangan yang menuntut persenjataan,
golongan individualis yang menuntut kompetisi tanpa belas kasih, golongan
imperialis yang menuntut penjajahan atas masyarakat terbelakang, golongan
sosialis yang menuntut kekuasaan, dan kelompok rasialis yang menuntut
pembersihan internal dari orang-orang asing - kesemuanya ini, ketika dalih
keserakahan dan ketenaran telah gagal, atau bahkan sebelumnya, menyebut
nama Spencer dan Darwin, yang boleh dikatakan sebagai penjelmaan ilmu
pengetahuan... Ras adalah sesuatu yang biologis, yang berkaitan dengan
masalah sosiologi, dan juga berhubungan dengan Darwin.6
| PENDERITAAN DAN KESENGSARAAN Menurut Darwinisme Sosial, kaum lemah, miskin, berpenyakit, dan terbelakang sepatutnya dimusnahkan dan disingkirkan tanpa belas kasih. Para penganut paham ini meyakininya sebagai keharusan demi keberlangsungan evolusi umat manusia. Salah satu sebab mengapa di abad ke-20 tidak ada yang sudi mendengar jerit tangis jutaan manusia yang meminta pertolongan, dari Bosnia hingga Ethiopia, adalah ideologi yang dipaksakan secara luas ke masyarakat ini. |
Di abad ke-19, ketika Darwin mengajukan pernyataannya bahwa
mahluk hidup tidak diciptakan, melainkan telah muncul secara kebetulan,
dan bahwa manusia mempunyai nenek moyang yang sama dengan binatang, dan
telah muncul sebagai makhluk hidup yang paling berkembang dan maju sebagai
hasil peristiwa kebetulan, mungkin kebanyakan orang tidak dapat membayangkan
apa akibat dari pernyataan ini. Tetapi di abad ke-20, dampak dari pernyataan
ini tampak nyata dalam wujud berbagai pengalaman yang sungguh mengerikan.
Mereka yang melihat manusia sebagai binatang yang telah berkembang, tidak
ragu untuk bangkit dengan menginjak-injak yang lemah, mencari jalan untuk
memusnahkan yang sakit dan lemah, dan melakukan pembantaian untuk menghapuskan
ras yang mereka anggap berbeda dan lebih rendah. Semuanya terjadi karena
teori mereka yang berkedok ilmu pengetahuan ini mengatakan kepada mereka
bahwa ini adalah "hukum alam."
| Jacques Barzun, profesor sajarah yang menulis buku "Darwin, Marx, Wagner," |
Bencana yang ditimpakan Darwinisme kepada dunia bermula dengan
cara yang demikian ini, dan dengan cepat tersebar ke seluruh dunia. Sebaliknya,
pada abad ke-19, hingga saat materialisme dan atheisme tumbuh semakin
kuat dengan dukungan yang mereka dapatkan dari Darwinisme, kebanyakan
masyarakat percaya bahwa Tuhan menciptakan semua mahluk hidup dan bahwa
manusia, tidak seperti mahluk hidup lainnya, memiliki ruh yang diciptakan
Tuhan. Berasal dari ras atau suku bangsa manapun, setiap manusia adalah
seorang hamba yang diciptakan oleh Tuhan. Namun, redupnya keimanan terhadap
agama yang diakibatkan, dan diperparah, oleh Darwinisme, memunculkan kelompok-kelompok
masyarakat dengan cara pandang kompetitif dan tanpa mengenal belas kasih,
tidak mengindahkan pentingnya moral, memandang manusia sebagai binatang
yang telah berkembang maju.
Orang-orang yang mengingkari kewajiban mereka kepada Tuhan
memunculkan pola hidup di mana segala sikap yang mementingkan diri sendiri
dapat dibenarkan. Dari pola hidup ini lahirlah banyak paham, dan masing-masing
paham ini, dalam penerapannya pada kehidupan dunia yang sesungguhnya,
menjadi malapetaka bagi manusia.
Di halaman-halaman berikutnya, kita akan mempelajari beragam
ideologi yang mendapatkan pembenaran dari Darwinisme tersebut, hubungan
erat antara ideologi-ideologi ini dengan Darwinisme, dan penderitaan yang
harus ditanggung dunia akibat persekutuan ini.
http://www.harunyahya.com/indo/buku/bencana02.htm





